Friday, February 7, 2014

Sejarah Dan Makna Lagu Sufi Lir -ilir Jawa



Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali songo yang terkenal. Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1455 , pada waktu muda Sunan Kalijaga bernama Raden Said atau Jaka Said selain itu disebut juga dengan nama Syekh Malaya, Lokajaya, Raden Abdurrahman dan Pangeran Tuban. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Sunan Kalijaga sangat bersifat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka masyarakat harus didekati secara bertahap demi tahap, prinsipnya mengikuti sambil mempengaruhi. Itulah salah satu taktik dakwah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah difahami, dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Beliau selalu memperkenalkan agama secara luwes tanpa menghilangkan adat-istiadat/ kesenian daerah (adat lama yang ia beri warna Islami) yang telah ada sebelumnya. Beliau terkenal dengan dakwahnya yang ajarannya terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk. Seni suara suluk karya Sunan Kalijaga yang terkenal salah satunya adalah tembang lir-ilir.

Karya besar Sunan Kalijaga yang sangat terkenal adalah "Tembang lir-ilir" sebagai bentuk dakwah sebenarnya mengandung falsafah Islam yang sangat kental . 
Berikut lirik dan maknanya. 

" Lir-ilir, lir-ilir 
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako... surak hiyo..."

1. Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure wus sumilir = Mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan berubah kerana saatnya telah tiba.

2. Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.
Ijo royo-royo ( Hijau ) = Warna Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.

4. Bocah angon.Penekno blimbing kuwi = Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin harus memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar

5. Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro = Membasuh jiwa dengan taqwa sebagai pakaian muslim, orang Islam harus tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya

7.Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir= Sebagai perumpamaan banyak orang zaman sekarang meninggalkan suruhan agama islam, sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rosak dan robek.memperbaiki dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar

9.Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore= memperbaiki dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar untuk masa depan ( hari kiamat)

10. Mumpung padhang rembulane = Selagi kita masih hidup dan masih mampu untuk melakukannya.Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu

11.Yo surako... surak hiyo = Orang yang bersorak itu menandakan bahagia dengan mendapatkan rahmat Allah

Demikianlah pesanan dari Sunan Kalijaga lima abad yang lalu melalui "tembang lir ilir" yang sampai saat ini pun masih tetap terasa relevan. Semoga kita dapat menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.

No comments:

EKSPEDISI MAHKOTA Mudik Sungai Pahang 2024